Rabu, 08 November 2017

Pemutus Segala Kelezatan




Pemutus Segala Kelezatan

Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-

Sebuah pohon tumbuh perlahan-lahan, dari sejari menjadi batang besar lagi menjulang tinggi. Tampak suatu kekokohan padanya.

Namun sebagian orang tak sadar bahwa pohon yang kokoh itu akan melemah dan hancur perlahan-lahan.

Demikianlah perumpamaan manusia dan seluruh makhluk. Sebuah kepastian yang tak terelakkan bagi setiap insan bahwa ia akan kembali kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Segala kelezatan yang ia pernah rasakan dan terima di dunia berupa jasad beserta segala pelengkapnya, harta beserta segala macamnya, keluarga dan lainnya.

Semua itu memiliki masa yang telah ditentukan oleh Allah Allah -Azza wa Jalla-.

Lantaran itu, Nabi kita yang mulia -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan semua itu dalam sebuah sabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، يَعْنِي : الْمَوْتَ
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yakni kematian".[HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2307), An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (1824) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 4258). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (no. 682)]

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata,
"شَبَّهَ اللَّذَّاتِ الْفَانِيَةَ وَالشَّهَوَاتِ الْعَاجِلَةَ ثُمَّ زَوَالَهَا بِبِنَاءٍ مُرْتَفِعٍ يَنْهَدِمُ بِصَدَمَاتٍ هَائِلَةٍ ثُمَّ أَمَرَ الْمُنْهَمِكَ فِيهَا بِذِكْرِ الْهَادِمِ لِئَلَّا يستمر على الركون إليها ويشتغل عَمَّا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْفِرَارِ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ انْتَهَى كَلَامُهُ." اهـ من تحفة الأحوذي (6/ 489)
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan segala kelezatan yang fana dan segala keinginan duniawi dan kehancurannya dengan sebuah bangunan yang menjulang. Bangunan itu akan runtuh oleh berbagai goncangan hebat. Lalu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang terlena dengan dunia untuk mengingat penghancur kelezatan tersebut (yakni, maut) agar ia tak terus-menerus condong kepadanya, (sehingga) ia pun menyibukkan diri dengan sesuatu yang wajib atas dirinya berupa penghadapan diri kepada kampung abadi (yaitu, akhirat)". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/92)]

Wahai para hamba Allah, segala kelezatan yang kita terima di dunia bukanlah sesuatu yang perlu kita banggakan, bukan pula sesuatu yang perlu kita tumpuk sampai datangnya masa dimana Allah akan mencabut dan menariknya secara paksa dari kita.

Mau atau tidak, pasti akan hilang dari tangan kalian. Kelezatan itu akan hilang seiring dengan datangnya maut yang menjemput kita dan menghadapkan kita ke liang kubur.

Allah -Ta'ala- berfirman,
{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3)} [التكاثر: 1 - 3]
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)". (QS. At-Takaatsur : 1-3)

Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
"يَقُولُ تَعَالَى: شَغَلَكُمْ حُبُّ الدُّنْيَا وَنَعِيمُهَا وَزَهْرَتُهَا عَنْ طَلَبِ الْآخِرَةِ وَابْتِغَائِهَا، وَتَمَادَى بِكُمْ ذَلِكَ حَتَّى جَاءَكُمُ الْمَوْتُ وَزُرْتُمُ الْمَقَابِرَ، وَصِرْتُمْ مِنْ أَهْلِهَا؟!" اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (8/ 472)
"Allah -Ta'ala- berfirman, "Kalian telah disibukkan oleh kecintaan kepada dunia, kenikmatan dan perhiasannya dari mencari akhirat; Semua itu terus-menerus pada diri kalian sampai kalian didatangi maut dan memasuki liang kubur dan kalian pun menjadi penghuninya!!" [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/472)]

Bermegah-megahan dengan banyaknya harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan semisalnya.

Apakah semua itu telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah?!

Apakah kalian lebih mengutamakan harta benda dan kelezatan dunia yang kalian miliki dibandingkan merendahkan diri di hadapan Allah -Azza wa Jalla- di waktu-waktu adzan telah dikumandangkan.

Sungguh sial dan celakalah seseorang yang lebih disibukkan oleh hartanya dari menegakkan sholat bersama dengan kaum muslim di rumah-rumah Allah!!

Banyak diantara kita yang lebih betah di hadapan televisi, pekerjaan dan segala aktifitasnya dibandingkan ia mencari kebaikan di majelis-majelis ilmu.

Padahal ia memiliki waktu yang luang untuk menghadirinya. Namun kesibukan demi kesibukan, seiring dengan perkembangan zaman, manusia semakin lalai dengan berbagai macam pekerjaan dan fasilitas kehidupan, mulai dari televisi, komputer, mobil, motor dan lainnya

Taman-taman hiburan untuk tua-muda juga bertebaran dimana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan dan pasar semakin banyak.

Belum lagi, sebagian orang ada yang disibukkan dengan berbagai macam aktifitas politik beserta tetek bengeknya berupa rapat-rapat, kampanye, sosialisasi masyarakat dan sederet acara-acara lainnya.

Semua itu telah menyibukkan kita dari perbekalan akhirat yang semestinya kita siapkan dalam dunia yang fana ini.

Tapi semua itu hilang dari catatan memori kehidupan kita. Sebagian orang lebih senang menghamburkan hartanya untuk kepentingan perutnya semata, tanpa mengingat bahwa semua harta yang kita hamburkan, tanpa faedah untuk akhirat kita.

Perutnya sudah sesak, masih terus diisi; saudaranya kelaparan, namun ia tidak tahu diri dan bermasa bodoh dengan keadaan saudara dan tetangganya yang berselimut kesusahan dan penderitaan, tanpa uluran tangan darinya.

Seonggok harapan tertumpu padanya, namun ia tak pedulikan. Seakan-akan ia binatang yang tak peduli kepada sesamanya.

Jangankan orang lain, orang tua dan kerabat saja ditelantarkan; tak ada tegur sapa, ziarah dan perhatian kepada mereka.

Dia lebih sibuk dengan setumpuk pekerjaannya dibandingkan baktinya kepada orang tua. Sementara orang tua semakin didera oleh ketuaan dan kelemahan, sedang ia telah berputus asa dari kebaikan anaknya. Sungguh sial orang yang seperti ini!!

Lebih celaka dari semua itu, ia gunakan hartanya untuk perkara sia-sia dan haram, mulai dari berjudi, minum khomer dan narkoba, menghamburkan uang di bar-bar, rumah-rumah tunasusila.

Rumah dan mobilnya dihiasi dengan berbagai macam sound system yang siap mengganggu tetangga dan penghuni rumahnya dengan berbagai macam alunan setan yang bernama “musik”.

Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengharamkannya dalam sebuah sabdanya,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
"Sungguh akan ada diantara umatku orang-orang yang akan menghalalkan zina, sutra, khomer dan musik".[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4/30)]

Al-Imam Ibnu Nujaim Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata,
"وَدَلَّتْ الْمَسْأَلَةُ عَلَى أَنَّ الْمَلَاهِيَ كُلَّهَا حَرَامٌ حَتَّى التَّغَنِّي بِضَرْبِ الْقَصَبِ." اهـ من البحر الرائق شرح كنز الدقائق ومنحة الخالق وتكملة الطوري (8/ 214)
"Perkara ini menunjukkan bahwa semua jenis musik adalah haram sampai pun bernyanyi dengan memukulkan tulang-belulang". [Lihat Al-Bahr Ar-Ro'iq Syarh Kanz Ad-Daqo'iq (8/214)]

Musik telah banyak membuat para generasi kita lalai dan gila. Waktunya tersibukkan dengan nyanyian dan lantunan musik sehingga ia pun malas mengaji dan membaca Al-Qur'an, apalagi mau hadir di majelis-majelis ilmu. Hatinya lebih tenang bila mendengarkan musik daripada mendengarkan Al-Qur'an; ia lebih bangga memegang gitar dan alat musik lainnya dibandingkan memegang Al-Qur'an dan buku-buku agama.

Dia lebih terpukau dengan penampilan para pemusik (muslim yang fasiq, maupun kafir) dibandingkan kepahlawanan dan pengorbanan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya.

Dia lebih rajin membuka kisah dan dongeng Walt Disney dan Negeri Anta Barantah dibandingkan kisah para nabi dan orang-orang sholih.

Masa lowongnya lebih senang ia sia-siakan di depan TV dan komputer, di gedung biokop, mall-mall, diskotik, rumah bordir, dan taman-taman hiburan lainnya.

Sedikitpun dari usianya tak ada untuk akhiratnya, semua untuk hawa nafsu dan kesenangan dunianya.

Di sudut lain, kita melihat sebagian wanita muslimah, tak kalah lalainya daripada kaum lelaki. Tidak jauh beda dengan gambaran di atas.

Hanya saja wanita-wanita muslimah di zaman ini, banyak di antara mereka yang tidak lagi memperhatikan rasa malunya di depan lawan jenisnya.

Pakaian-pakaian seronok dan setengah jadipun rela mereka pakai. Pakaian yang mestinya dipakai oleh orang-orang yang miring akalnya alias gila, nah mereka jadikan sebagai pakaian kebanggaan.

Adakah rasa malu lagi di hati mereka, bila mereka melepas pakaian kemuliaan yang bernama jilbab, lalu memamerkan segala macam kecantikan tubuhnya.

Sungguh musibah bagi umat ini tatkala kaum wanitanya telah melepaskan pakaian kemuliaan.

Miris rasanya, kita melihat wanita-wanita muslimah bertebaran di jalan dan di semua tempat-tempat umum; mereka menampilkan kemolekan tubuhnya, kecantikan parasnya untuk semua orang, tanpa malu dan risih kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.

Kesibukan dan aktifitas mereka, tak kalah padatnya dengan kaum Adam. Mereka sibuk bekerja dengan segala penampilannya yang tak senonoh.

Padahal mereka dianjurkan tinggal di rumah melakukan aktifitas dan pekerjaan yang sesuai dengan kodratnya.

Mereka lebih senang membuka lembaran majalah dan tabloid yang berisi perkembangan model dan kehidupan para selebritis dibandingkan membuka lembaran sejarah kehidupan para wanita muslimah di zaman kenabian dan para salaf.

Para wanita kita lebih senang mengoleksi berbagai macam model pakaian ala Prancis dan Italia, segala merek parfum dan kosmetik produk mancanegara dan lainnya.

Waktunya banyak yang terbuang di depan TV mengikuti serial telenovela dan gossip para selebritis.

Kamarnya dipenuhi oleh gambar orang-orang fasik dan kafir dari kalangan artis dan pemusik mancanegara, dan terkhusus lagi artis Mandarin dan Korea.

Subhanallah, demikianlah gambaran kehidupan kaum muslimin dari orang tua sampai remaja.

Semuanya lupa adanya kematian yang akan menghancurkan segala kelezatan.

Karenanya, sedari dini, setiap orang mempersiapkan diri menghadapi hari yang penuh dengan siksaan dan kengerian.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
{إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا } [النبأ: 40]
"Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian tentang siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah". (QS. An-Naba' : 40)

Sebelum datangnya hari penyesalan, di saat kematian telah berada di depan, maka hendaknya kita memperbanyak bekal ketaatan menuju akhirat dan meninggalkan perbuatan maksiat dan kenistaan.

Ikutilah petunjuk dan jalan hidup Nabimu -Shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak, maka sungguh anda telah menzholimi diri sendiri. Sedang bagi orang yang zholim, tak ada yang ia tunggu, selain penyesalan. Allah -Ta'ala- berfirman,
{وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29) } [الفرقان: 27 - 30]
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran, ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku". Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia". (QS. Al-Furqon : 27-29)

Hari itu, tak ada yang bermanfaat kecuali amal sholih yang pernah kita kerjakan di dunia.

Hari itu, sebelah biji korma yang di-infaq-kan di jalan Allah, amat berguna bagi pelakunya.

Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَو ْبِشِقِّ تَمْرَةٍ
"Handaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]

Amalan sholih yang ikhlash amat bermanfaat bagi pelakunya, walaupun nilainya sedikit menurut pandangan manusia.


Karenanya, setiap orang berusaha untuk beramal sholih sesuai kemampuan masing-masing dan jangan tertipu dengan jumlah!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar